RI Tercatat Punya Utang Rp6.000 Triliun, Ini Penyebabnya

Lifepod.id-Pada akhir 2020 tercatat hingga bulan Desember, Indonesia memiliki utang luar negeri senilai US$416,6 miliar atau Rp5.855 triliun.

RI Tercatat Punya Utang Rp6.000 Triliun, Ini Penyebabnya
Img. Indonesia tercatat memiliki utang luar negeri mencapai Rp5.855 triliun

 

Angka itu setara dengan 38,68 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono, utang ini terdiri dari dua sumber. Pertama, utang sektor publik yang dihimpun pemerintah dan BI sebesar US$206,5 miliar. Sedangkan sisanya merupakan utang luar negeri sektor swasta US$210,1 miliar.

Erwin menyebut kenaikan utang ini karena terjadi peningkatan penarikan utang luar negeri pemerintah.

“Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga berkontribusi pada peningkatan nilai utang luar negeri berdenominasi rupiah,” ujar Erwin, Selasa (19/01).

Terjadi penambahan utang juga dimana terjadi penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung penanganan pandemi COVID-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Utang luar negeri pemerintah tetap dikelola secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas,” tuturnya.

 

Baca juga: Viral! Aksi WNA Promosikan Untuk Pindah ke Bali Secara Ilegal

 

Kapan utang itu akan terlunasi?

Menurut Ekonom Institute of Development of Economics and Finance(Indef) Bhima Yudhistira, Indonesia belum bisa melunasi utang ini bahkan hingga 2050 mendatang.

Bila ada ulang yang jatuh tempo hingga 2050, pemerintah masih akan membayar utang tersebut dengan penerbitan utang baru. Diperkirakan tak mungkin Indonesia bisa segera bebas dari jeratan utang.

“Tidak ada kosa kata untuk utang lunas, karena ketika jatuh tempo akan dibayar dengan penerbitan utang baru,” kata Bhima dikutip dari Kompas.com, Minggu (17/01).

Tak hanya itu, model APBN yang dirancang terus menerus defisit juga akan menyulitkan Indonesia bisa lepas dari ketergantungan utang.

Dikhawatirkan Indonesia akan terjebak dalam debt overhang atau overhang, kondisi dimana utang semakin meninggi dan membuat ekonomi susah untuk bangkit.

Bila diumpamakan, Indonesia sebagai sebuah kapal yang kelebihan muatan, maka kapal tersebut akan susah bergerak dengan cepat.

“Karena tiap tahun bunga utang menyita 19 persen dari pendapatan negara, maka uang yang seharusnya dibuat untuk belanja pendidikan, belanja kesehatan, dan pembangunan akan terbaru untuk membiayai pembayaran bunga utang dan cicilan pokok,” ujar dia.

Langkah terbaik yang bisa dilakukan oleh pemerintah ialah mengendalikan belanja pengeluaran negara sehingga angka utang bisa ikut terkontrol.
 

Baca juga: China Bakal Ambil Alih Alibaba dan Ant Group, Apa Alasannya?