Menilik Prospek Startup Akuakultur Lokal eFishery yang Mulai Jajaki Pasar Luar Negeri

Lifepod.id - eFishery merupakan perusahaan rintisan (startup) industri akuakultur pertama di Indonesia yang menyediakan solusi dalam budidaya ikan dan udang secara berkelanjutan.

Menilik Prospek Startup Akuakultur Lokal eFishery yang Mulai Jajaki Pasar Luar Negeri

“Dengan menggunakan data dan teknologi, eFishery membantu para pembudidaya ikan meningkatkan produktivitas dan kualitas budidayanya, melalui permodalan, serta mendapatkan akses untuk memperluas pasar,” katanya.

Menurut Co-founder dan CEO eFishery Gibran Huzaifah, industri akuakultur sektor perikanan memiliki potensi besar untuk ikut mengatasi masalah ketahanan pangan. Kini eFishery menyediakan aplikasi bernama eFisheryKu, aplikasi layanan ini menyediakan pakan eFisheryFeed yang terintegrasi dengan layanan pendanaan eFisheryFund.

Dengan layanan eFisheryFeed akan memudahkan para pembudidaya ikan untuk mendapatkan pakan seuai dengan kebutuhan dan harga yang kompetitif. Pembelian pakan juga dinilai lebih mudah karena eFisheryku menyediakan opsi pembayaran sistem tempo eFisheryKabayan (kasih bayar nanti) yang menjadi bagian dari eFisheryFund.

"eFishery selalu menjadi solusi untuk mengatasi masalah fundamental dalam industri akuakultur dengan menyediakan teknologi yang terjangkau," ujar Gibran.

Sampai saat ini salah satu pasar eFisheryku yang melek teknologi dalam praktik budi daya perikanan adalah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur yang dikenal sebagai daerah penghasil ikan konsumsi seperti patin, lele, gurami, tombro, nila hitam, dan tawes.

Muktasim salah satu pembudidaya ikan asal Tulungagung mengaku mendapatkan banyak manfaat dan kemudahan dengan menggunakan layanan eFishery.

“Bergabung dengan eFishery banyak manfaat, karena eFishery memberikan solusi masalah pakan berupa efisiensi pakan menggunakan mesin pelontar otomatis dan pinjaman pakan, serta membantu membuka jaringan pemasaran,” ujar Muktasim.
 

Dengan menggunakan mesin eFisheryFeeder, Muktasim kini tak banyak menghabiskan tenaga untuk memberi makan ikannya.  Ia memberikan makan pada ikannya secara otomatis yang dapat dikontrol langsung melalui ponsel.Hanya perlu membuat jadwal pemberian makan ikan.

Selain itu, pakan yang ia habiskan untuk ikannya juga akan tercatat secara otomatis sehingga akan memudahkan untuk terus memantau pengeluaran pakan ikan tanpa mencatat secara secara manual. 
Dengan efisiensi pemanfaatan eFishery, Muktasim yang sebelumnya hanya memiliki 15 kolam patin, dalam 2 tahun terakhir ia mampu menambah jumlah kolam budidayanya menjadi 35 kolam dan menghasilkan hingga 10-15 ton ikan patin perbulannya.
 
Merambah Pasar Luar Negeri 

Setelah delapan bulan mengembangkan teknologi akuakultur, kini eFishery mulai merambah ke pasar luar negeri. Negara yang telah diuji coba adalah Thailand dan Vietnam

"Kita tahun ini sudah ekspansi ke Thailand dan Vietnam. Tahun depan dua negara baru lagi," ujar Chrisna Co-founder dan Chief of Staff saat berbincang di kantor eFishery yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, Rabu (14/9).

Pihaknya akan melakukan pendekatan-pendekatan dengan menggandeng perusahaan lokal luar negeri untuk menarik perhatian pasar.

"Strateginya kita lebih coba menggandeng perusahaan lokal yang bisa jadi partner kita. Kemudian edukasi ke petani di sana," ungkapnya.
Tidak hanya itu edukasi kepada para peternak ikan di sana juga menjadi hal penting yang wajib dilakukan.
 

Baca Juga : Selamat GoTo dapat Suntikan dana Abu Dhabi Rp 5,7 Triliun

Baca Juga : Transaksi Rp9T/bulan, Karyawan StartUp GudangAda Jadi yang Paling Bahagia di Indonesia