Upaya Pemda DIY dalam Menghadapi Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Lifepod.id Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), belum lama ini memberi peringatan terkait potensi bencana hidrometeorologi di DIY selama beberapa waktu ke depan. Berikut adalah sejumlah upaya yang dilakukan Pemda DIY dalam menghadapi bencana hidrometeorologi. Dan apa sebenarnya bencana hidrometeorologi tersebut?

Upaya Pemda DIY dalam Menghadapi Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), belum lama ini memberi peringatan terkait potensi bencana hidrometeorologi di DIY selama beberapa waktu ke depan. Pemda DIY sendiri sudah melakukan sejumlah upaya untuk mengatisipasi dampak dari cuaca buruk. Sekretaris Daerah DIY, Drs K Baskara Aji di Yogyakarta pada Ahad (7/11) malam mengatakan bahwa salah satu upaya yang dilakukan Pemda adalah dengan menyiapkan Desa Tangguh Bencana (Destana) di daerah rawan bencana dan saat ini tercatat ada lebih dari 250 Destana yang terbentuk dari total 400an kelurahan di DIY. Berdasarkan data yang ada dari jumlah total tersebut, sebanyak 301 kelurahan merupakan daerah rawan bencana.

Dalam waktu dekat Pemda DIY akan melakukan apel kesiapsiagaan bencana. Selain itu Pemda DIY akan memastikan kesiapan Forum Pengurangan Risiko Bencana yang juga di bentuk di tingkat desa. Drs K Baskara Aji, memastikan anggaran untuk kebencanaan di DIY masih mencukupi, meskipun anggaran tersebut masih fokus digunakan Pemda DIY untuk penanggulangan pandemi Covid-19. Adapun anggaran kebencanaan Pemda DIY bersumber dari Belanja Tak Terduga (BTT) yang saat ini dialokasikan sebesar Rp. 98 miliar.

Lalu, apa sebenarnya bencana Hidrometeorologi itu?

Mengutip dari ilmugeografi.com bencana hidrometeorologi adalah sebuah fenomena alam yang terjadi berkaitan dengan lapisan atmosfer, hidrologi dan oceanografi yang berpotensi membahayakan, merusak, dan menyebabkan hilangnya nyawa penduduk. Bencana hidrometeorologi ini adalah bencana yang termasuk banjir, tanah longsor, angin puting beliung, badai es atau di indonesia sering terjadi hujan es, badai salju, bencana kekeringan, hujan yang sangat lebat, hujan salju yang sangat lebat dan lain – lain.

Dan apa penyebab dari bencana Hidrometeorologi?

1. Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem

Bencana yang terjadi terutama di Indonesia sering sekali disebabkan adanya perubahan cuaca dan iklim secara mendadak dan ekstrem. Perubahan iklim dan cuaca yang terjadi menyebabkan beberapa dampak buruk bagi beberapa daerah seperti yang sering terjadi di Indonesia. Beberapa cuaca ekstrem seperti kemarau panjang menyebabkan kekeringan, dan juga jika hujan lebat terjadi dalam waktu lama bisa menyebabkan bencana banjir dan juga tanah longsor.

2. Perubahan Tekanan Udara yang Mendadak

Hal ini bisa menyebabkan bencana angin puting beliung dan angin besar yang lainnya. Angin dikategorikan berbahaya jika angin tersebut memiliki kecepatan 62km/jam atau lebih. Angin dengan kecepatan yang besar ini disebabkan karena adanya perubahan tekanan udara dan didukung oleh cuaca yang terjadi sedang ekstrem. Angin ini sangat berpotensi untuk merusak, dan juga mengancam korban jiwa dari penduduk yang ada di sekitar kejadian.

3. La Lina dan El Nino

Penyebab bencana hidrometeorologi lainnya terutama di Indonesia adalah La nina dan El nino. Dua dampak utama adalah kekeringan dan terjadinya banjir karena curah hujan yang tinggi. El nino yang berpengaruh terhadap kekeringan di Indonesia karena dengan adanya angin ini curah hujan di sekitar indonesia menjadi berkurang dan terkadang menyebabkan kekeringan panjang.

La nina yang berpengaruh terhadap curah hujan tinggi di Indonesia dan menyebabkan kota, daerah yang tidak memiliki resapan yang bagus akan terkena banjir. Selain itu ditambah dengan cuaca ekstrim menambah beberapa lagi bencana yang bisa terjadi seperti tanah longsor dan juga angin puting beliung.

4. Faktor Penyebab Lainnya

Masih ada beberapa faktor penyebab bencana hidrometeorologi lainnya seperti karena musim kemarau yang panjang menyebabkan beberapa tempat di Indonesia membeku hingga ke bawah. Kemarau panjang juga bisa menyebabkan sebuah fenomena hujan es atau disebut dengan nama hail. Hal ini disebabkan karena terjadi pembentukan awan secara konvektif dimana massa udara hangat akan terangkat ke atas dan membentuk awan yang sangat dingin yang kurang dari titik beku sehingga menjadi beku seperti es.

Saat sudah cukup terbentuk awan hujan es itu akan turut jatuh bersama air hujan. Hujan es ini biasanya hanya terjadi di satu daerah saja dan tidak merata dikarenakan pembentukan awan tersebut berlangsung dengan cepat.